Kamis, 01 Mei 2008

Tulisan Ulama Sunnah

Fitnah Tajrih (celaan) dan Tabdi’ (vonis bid’ah) oleh sebagian ahlus sunnah di zaman ini Termasuk Bid’ah Imtihaanu An-Naas bil Asykhosh

Oleh : Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad

Yang semisal dengan bid’ah Imtihaanu an-Naas bil Asykhosh (menguji manusia dengan perseorangan) yang terjadi dewasa ini dari sekelompok kecil Ahlus Sunnah yang gemar mentajrih saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah dan mentabdi’ mereka, sehingga mengakibatkan timbulnya hajr, taqathu dan memutuskan jalan kemanfaatan dari mereka. Tajrih dan tabdi’ tersebut dibangun di atas asumsi suatu hal yang tidak bid’ah namun dianggap bid’ah.

Sebagai contohnya adalah dua syaikh kita yang mulia, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah merahmati mereka berdua, telah menfatwakan bolehnya memasuki suatu jama’ah (semacam yayasan khairiyah pent.) dalam beberapa perkara yang mereka pandang dapat mendatangkan kemaslahatan dengan memasukinya. Dari mereka yang tidak menyukai fatwa ini adalah kelompok kecil tadi dan mereka mencemarkan jama’ah tersebut.

Permasalahannya tidak hanya berhenti sebatas ini saja, bahkan mereka menyebarkan aib siapa saja yang bekerja sama dengan memberikan ceramah pada jama’ah tersebut dan mereka sifati sebagai mumayi (orang yang lunak) terhadap manhaj salaf, walaupun kedua syaikh yang mulia tadi pernah memberikan ceramah pada jama’ah ini via telepon.

Perkara ini juga meluas sampai kepada munculnya tahdzir (peringatan) untuk menghadiri pelajaran (durus) seseorang dikarenakan orang tersebut tidak berbicara tentang fulan dan fulan atau jama’ah fulani. Yang mempelopori hal ini adalah salah seorang muridku di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah, yang lulus pada tahun 1395-1396H.[1] Dia meraih peringkat ke-104 dari jumlah lulusan yang mencapai 119 orang. Dia tidaklah dikenal sebagai orang yang menyibukkan diri dengan ilmu, dan tidak pula aku mengetahuinya memiliki pelajaran-pelajaran ilmiah yang terekam, tidak pula tulisan-tulisan ilmiah, kecil ataupun besar.

Modal ilmunya yang terbesar adalah tajrih, tabdi’ dan tahdzir terhadap mayoritas Ahlus Sunnah, padahal si Jarih (pencela) ini ini tidaklah dapat menjangkau mata kaki orang-orang yang dicelanya dari sisi banyaknya kemanfaatan pada pelajaranpelajaran, ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan mereka. Keanehan ini tidak berakhir sampai di situ, apalagi jika ada seorang yang berakal mendengarkan sebuah kaset yang berisi rekaman percakapan telepon yang panjang antara Madinah (Syaikh Falih, pent.) dan Aljazair. Di dalam kaset ini, fihak yang ditanya ‘memakan daging’ mayoritas ahlu Sunnah, dan di dalamnya pula si penanya memboroskan hartanya tanpa hak.

Orang-orang yang ditanyainya mencapai hampir 30-an orang pada kaset ini, diantara mereka (yang ditanyakan) adalah Wazir (menteri), pembesar dan orang biasa. Juga di dalamnya ada sekelompok kecil yang tidak merasa disusahkan (yang tidak dicela karena termasuk kelompok kecil tersebut, pent.). Yang selamat (dari celaan) hanyalah orang-orang yang tidak ditanyakan di dalamnya, namun mereka yang selamat dari kaset ini sebagiannya tidak selamat dari kaset-kaset lainnya. Penyebaran utamanya adalah dari situs-situs informasi internet. Wajib baginya menghentikan memakan daging para ulama dan para thullabul ‘ilm dan wajib pula bagi para pemuda dan penuntut ilmu untuk tidak mengarahkan pandangannya kepada tajrihat (celaan-celaan) dan tabdi’at (pembid’ahan) yang merusak tidak bermanfaat ini, serta wajib bagi mereka menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat yang akan membawa kebaikan dan akibat yang terpuji bagi mereka di dunia dan akhirat.

Al-Hafidh Ibnu Asakir –rahimahullah- mengatakan dalam bukunya, Tabyinu Kadzibil Muftarii (hal 29) :

“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah menunjuki kami dan kalian kepada keridhaan-Nya dan semoga Dia menjadikan kita orang-orang yang takut kepada-Nya dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, bahwasanya daging para ulama –rahmatullahu ‘alaihim- adalah beracun dan merupakan kebiasaan Allah (sunnatullah) merobek tabir kekurangan mereka pula.”

Telah kujabarkan dalam risalahku, Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, sejumlah besar ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar-atsar berkenaan tentang menjaga lisan dari mencerca Ahlus Sunnah, terutama terhadap ulamanya.

Kendati demikian, hal ini tidaklah memuaskan sang pencela (jarih), bahkan dia mensifati risalahku tersebut tidak layak untuk disebarkan. Dia juga mentahdzir risalahku dan orang-orang yang menyebarkan-nya. Tidak ragu lagi, barang siapa yang mengetahui celaan (jarh) ini dan menelaah risalahku, ia akan menemukan bahwa perkara ini di satu lembah dan risalahku di lembah yang lain, dan hal ini sebagai-mana yang dikatakan seorang penyair :

Mata boleh menyangkal cahaya matahari dikarenakan sakit

Mata dan mulut boleh menyangkal rasa air dikarenakan sakit mulut

Adapun ucapan si Jarih ini terhadap risalah Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, yang mengatakan : “misalnya tentang anggapan bahwa manhaj Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan manhaj Syaikh Utsaimin menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah yang lainnya, maka hal ini adalah suatu kesalahan tidak diragukan lagi, yakni mereka berdua tidak memperbanyak bantahan dan membantah orang-orang yang menyimpang. Hal ini, sekalipun benar dari mereka, maka (ini artinya manhaj mereka) menyelisihi manhajnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan yang demikian ini artinya adalah sebuah celaan bagi kedua syaikh tersebut atau lainnya yang punya anggapan demikian!!!”

Maka jawabannya dari beberapa sisi :

Pertama, hal tersebut tidaklah terdapat di dalam risalahku bahwa Syaikh Abdul Aziz tidak memperbanyak bantahan. Bahkan, bantahan beliau banyak. Hal ini telah diterangkan dalam risalahku (hal. 51) sebagai berikut : “Hendaknya bantahan tersebut dilakukan dengan keramahan dan lemah lembut disertai dengan keinginan kuat untuk menyelamatkan orang yang salah tersebut dari kesalahannya apabila kesalahannya jelas dan tampak. Selayaknya seorang yang hendak membantah orang lain, merujuk kepada metodenya Syaikh Ibnu Bazz ketika membantah untuk kemudian diterapkannya.”

Kedua, Sesungguhnya aku tidak mengingat telah menyebutkan manhaj Syaikh Utsaimin di dalam membantah, dikarenakan aku tidak tahu, sedikit atau banyak, apakah beliau memiliki tulisan-tulisan bantahan. Aku pernah bertanya kepada salah seorang murid terdekatnya yang bermulazamah kepadanya sekian lama tentang hal ini, dan dia memberitahuku bahwa dia tidak mengetahui pula apakah syaikh memiliki tulisan-tulisan bantahan. Yang demikian ini tidaklah menjadikan beliau tecela, dikarenakan beliau terlalu sibuk dengan ilmu, menyebarkannya dan menulis buku-buku.

Ketiga, bahwasanya manhajnya Syaikh Abdul Aziz bin Bazz –rahimahullahu- berbeda dengan manhaj sang murid pencela ini dan orang-orang yang serupa dengannya. Dikarenakan manhajnya syaikh dikarakteristiki oleh keramahan, kelembutan dan keinginan kuat untuk memberikan manfaat kepada orang yang dinasehati dan demi menolongnya ke jalan keselamatan. Adapun sang pencela dan orang-orang yang serupa dengannya, manhajnya dikarakteristiki dengan syiddah (keras), tanfir dan tahdzir. Dan mayoritas orang yang dicelanya di dalam kaset-kasetnya adalah orang-orang yang dulunya dipuji oleh Syaikh Abdul Aziz, yang beliau do’akan mereka (dengan kebaikan) dan beliau anjurkan mereka untuk berdakwah dan mengajari manusia serta mendorong dan beristifadah (mengambil manfaat) dari mereka.

Walhasil, sesungguhnya aku tidak menisbatkan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Bazz –rahimahullahu- tentang ketiadaan bantahannya terhadap orang lain. Adapun Ibnu ‘Utsaimin, aku tidak ingat pernah menyebutkan dirinya pada perkara bantahan, dan apa yang dikatakan si pencela ini tidak sesuai dengan risalahku. Hal ini merupakan dalil yang nyata tentang kesembronoannya dan ketidakhati-hatiannya (tanpa tatsabut). Jika hal ini dari dirinya tentang ucapan yang tertulis, lantas bagaimana keadaannya tentang apa-apa yang tidak tertulis???

Adapun ucapan pencela risalahku, “Aku sesungguhnya telah membaca risalah tersebut, dan aku telah mengetahui bagaimana sikap Ahlus Sunnah terhadap risalah ini. Semoga engkau akan melihat bantahannya dari sebagian ulama dan masyaikh, dan aku tidak menduga bahwa bantahan-bantahan tersebut akan berhenti sampai di sini, sesungguhnya akan ada lagi yang membantahnya, karena sebagaimana dinyatakan oleh seorang penyair :

Datang Syaqiq (Saudara kandung) sambil menawarkan tombaknya

Sesungguhnya Bani (anak-anak) pamanmu telah memiliki tombak

Demikianlah (yang dinyatakan si pencela ini), رض __ Aaridlun, padahal yang benar __ ر__ Aaridlon.

Tanggapan : Bahwasanya Ahlus Sunnah yang ia maksudkan adalah mereka yang manhajnya berbeda dengan manhajnya Syaikh Abdul Aziz –rahimahullahu- yang telah kutunjukkan barusan, dan ia dengan perkataannya ini (bermaksud) menghasut (mem-bangkitkan semangat) orang-orang yang tidak mengenal mereka untuk mendiskreditkan risalahku setelah ia menghasut orang-orang yang mengenal mereka.

Sesungguhnya aku tidak melontarkan tombak, namun sesungguhnya diriku hanya menyodorkan nasihat yang tidak mau diterima oleh si pencela ini dan orang-orang yang serupa dengannya. Dikarenakan nasehat itu bagi orang yang dinasehati, bagaikan obat bagi orang-orang yang sakit, dan sebagian orang-orang yang sakit menggunakan obat ini walaupun rasanya pahit dengan harapan akan memperoleh manfaat.

Diantara orang-orang yang dinasehati tersebut ada yang menjadikan hawa nafsunya menjauh dari nasehatku, tidak mau menerimanya bahkan mentahdzirnya. Aku memohon kepada Allah taufiq dan hidayah-Nya serta keselamatan untuk saudara-saudaraku semuanya dari tipu muslihat dan makar Syaithan.

Ada tiga orang yang menyertai si pencela ini, yang dua di Makkah dan Madinah dan kedua-duanya dulu muridku di Universitas Islam Madinah. Orang yang pertama lulus tahun 1384-1385 sedangkan yang kedua lulus tahun 1391-1392. Adapun orang yang ketiga berada di ujung selatan negeri ini. Orang yang kedua dan ketiga inilah yang mensifati orang-orang yang menyebarkan risalahku sebagai mubtadi’, dan tabdi’ ini merupakan tabdi’ keseluruhan dan umum, aku tidak tahu apakah mereka faham atau tidak, bahwa yang menyebarkan risalahku adalah ulama dan penuntut ilmu yang disifatkan dengan bid’ah.

Aku berharap mereka mau memberikanku masukan/alasan mereka atas tabdi’ mereka yang mereka bangun secara umum, jika ada, untuk diperhatikan lagi.

Syaikh Abdurrahman as-Sudais, Imam dan Khathib Masjidil Haram, pernah berkhutbah di atas mimbar di Masjidil Haram yang di dalamnya beliau mentahdzir dari sikap saling mencela Ahlus Sunnah satu dengan lainnya. Hendaknya kita alihkan perhatian kita kepada khuthbah beliau, karena sesungguhnya khuthbah beliau begitu penting dan bermanfaat.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk menunjuki seluruh ummat kepada apa yang diridhai-Nya, agar mereka mendalami agama mereka (tafaqquh fid din) dan menetapi kebenaran, serta agar mereka menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya Ia berkuasa dan berkemampuan atasnya. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya.

Foot note:

[1] Yang beliau maksudkan adalah Syaikh Falih bin Nafi’ al-Harbi, pembesar neo Haddadiyah di zaman ini. Pent.

Termasuk Bid’ah Bila Menguji Manusia Dengan Tujuan untuk Mengetahui Apakah Mereka Ahlus Sunnah atau Bukan

Oleh : Al-‘Allamah Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr’ Hafidzhahulloh Ta’ala

Termasuk bid’ah mungkar yang terjadi di zaman ini adalah bid’ah imtihaanu ba’dhu ahlis sunnah ba’dhan bi-asykhash (menguji ahlus sunnah satu dengan lainnya dengan perseorangan). Sama saja, baik yang mendorong seseorang melakukan imtihan (pengujian) itu karena merendahkan individu yang dijadikan ujian, ataupun yang mendorong ia melakukannya karena ia begitu berlebih-lebihan terhadap individu lainnya. Apabila hasil pengujiannya selaras dengan kehendak orang yang menguji, maka akan mendapatkan sokongan, pujian dan sanjungan. Namun apabila tidak selaras dengan kehendaknya, maka akan melahirkan tajrih (celaan), tabdi’ (vonis bid’ah), hajr (isolir) dan tahdzir (peringatan).

Berikut ini adalah cuplikan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang pertamanya adalah tabdi’ (vonis bid’ah) di dalam menguji manusia dengan perseorangan terhadap orang yang merendahkan orang itu dan yang kedua adalah tabdi’ di dalam menguji manusia dengan perseorangan lainnya terhadap orang yang berlebih-lebihan terhadap orang itu.

Beliau rahimahullahu berkata di dalam Majmu’ al-Fatawa (3/413-4) mengenai perbincangan tentang Yazid bin Mu’awiyah :

”Yang benar dari pendapat yang diperpegangi oleh para imam adalah, ia tidak dikhususkan dengan kecintaan dan tidak pula dilaknat. Bersamaan dengan itu, walaupun ia seorang yang fasik dan zhalim, maka Allohlah yang mengampuni orang yang fasik lagi zhalim, apalagi jika orang itu memiliki kebaikan yang besar.

Al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Ibnu ’Umar radhiyallahu ’anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

”tentara pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni dosa-dosanya”, dan tentara pertama yang memerangi Konstantinopel, komandan mereka adalah Yazid bin Mu’awiyah, dan turut berperang bersama beliau adalah Abu Ayyub al-Anshori… Maka wajib untuk bersikap tengah di dalam hal tersebut, dan berpaling dari membicarakan Yazid bin Mu’awiyah dan menguji kaum muslimin dengannya, karena ini termasuk bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah.”

Beliau berkata (3/415) :

”Dan demikian juga dengan memecah belah ummat dan menguji ummat dengan suatu yang tidak diperintahkan oleh Alloh maupun Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi wa Salam.”

Beliau berkata (20/164) :

”Tidak seorangpun yang berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan loyalitas dan permusuhan selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berloyalitas dan memusuhi selain perkataan Allah dan RasulNya serta apa yang menjadi kesepakatan umat, bahkan perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah yang mana mereka menentukan bagi mereka seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat (penyandaran) tersebut sebagai tolok ukur dalam berloyalitas dan memusuhi”

Beliau berkata (28/15-16) :

”Apabila seorang guru atau ustadz memerintahkan untuk menghajr (mengucilkan) seseorang atau menjatuhkan (kehormatannya) dan menjauhinya atau yang semisalnya, maka harus dipertimbangkan terlebih dulu : jika orang tersebut telah melakukan dosa secara syar’i maka dihukum sebatas tingkat dosanya tanpa dilebihkan, dan jika ia tidak melakukan dosa secara syar’i maka ia tidak boleh dihukum dengan sesuatu apapun hanya karena kehendak seorang guru atau lainnya. Tidak selayaknya bagi para guru mengelompokan manusia dan menanamkan rasa permusuhan dan kebencian di antara mereka, tetapi hendaklah mereka seperti saling bersaudara yang saling tolong menolong dalam melakukan kebajikan dan ketakwaan, sebagaimana firman Allah: “Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”

Sekiranya menguji manusia dengan perseorangan itu dibolehkan pada zaman ini, bertujuan untuk mengetahui siapakah ahlus sunnah dan bukan dengan pengujian ini, maka yang paling berhak dan utama untuk melakukannya adalah Syaikhul Islam dan mufti dunia serta Imam ahlus sunnah di zamannya, Syaikh kami, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz yang wafat pada tanggal 27 Muharam tahun 1420 H, semoga Alloh merahmati beliau, mengampuni beliau dan membalas beliau dengan pahala. Yang mana orang yang khusus (ulama) dan awam telah mengetahui keluasan ilmu beliau dan banyaknya kemanfaatan pada diri beliau, kejujuran beliau, kelemahlembutan beliau, belas kasih beliau dan antusias beliau di dalam menunjuki manusia dan mengarahkan mereka, demikian anggapan kami dan tidaklah kami bermaksud mensucikan seorang pun di hadapan Alloh.

Beliau adalah orang yang memiliki manhaj yang satu di dalam berdakwah kepada Alloh, mengajarkan kebaikan kepada manusia, menyeru mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, yang dikenal akan kelemahlembutan dan kehalusan budi beliau di dalam nasehat dan bantahan beliau yang banyak terhadap orang lain.

Manhaj beliau adalah manhaj yang lurus yang meluruskan ahlus sunnah bukan menentangnya, yang membangkitkan ahlus sunnah bukan yang melawannya, yang meninggikan ahlus sunnah bukan yang merendahkannya, manhaj yang mempersatukan bukan yang memecah belah, yang menghimpun bukan yang mengoyak-ngoyak, yang mengarahkan bukan yang merintangi dan yang mempermudah bukan yang mempersulit.

Aduhai, betapa butuhnya orang-orang yang sibuk dengan ilmu dan menuntutnya kepada suluk (akhlak) cara yang lurus dan manhaj yang agung ini, dalam rangka untuk mencapai kebaikan bagi kaum muslimin dan mencegah keburukan dari mereka.

Wajib bagi orang yang meniru dan yang ditiru, yang melakukan ujian semacam ini supaya melepaskan diri dari cara yang telah memecah belah ahlus sunnah ini dan menyebabkan satu dengan lainnya saling bermusuhan oleh sebab ujian ini. Demikian pula wajib bagi orang yang meniru untuk meninggalkan ujian ini dan meninggalkan setiap hal yang dapat mengantarkan kepada kebencian, hajr (pengucilan) dan taqothu’ (isolir) serta wajib bagi mereka untuk menjadi saudara yang saling menyayangi dan bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan.

Orang yang ditiru, wajib pula bagi mereka berlepas diri dari metode ini dan mengumumkan baro` (sikap berlepas diri) mereka darinya dan dari perbuatan orang yang melakukannya. Dengan demikian, akan selamatlah orang yang meniru dari bala’ (bencana) ini dan orang yang ditiru dapat selamat dari ditiru oleh sebab ujian ini dan segala hal yang disebabkan olehnya berupa pengaruh buruk yang nantinya akan kembali kepada mereka dan selain mereka.

Biografi Asy-Syaikh Al-Allamah DR. Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Hafidzhahulloh Ta’ala ditulis oleh: Kontribusi dari Yayasan Al-Qolam, Bekasi Sabtu, 01 September 2007 - Pukul: 10:53 WIB

Beliau Syaikh yang mulia lahir tahun 1349 H. di desa Muhairaqa, Qowaiea. Terletak sekitar 180 km dari ibu kota Riyad. Nama dan silsilah keturunannya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin. Silsilahnya bersambung sampai ke kabilah Bani Zaid. Pendidikan Setefah usianya genap satu tahun, mereka pindah ke Rayan. Di kota kecil itu orang tuanya memasukkannya sekolah tahun 1358 H. Mulailah ia belajar membaca dan menulis sampai tahun 1364 H. Setelah itu ia mulai menghafal al-Quran. Sebagian al-Quran berhasil ia hafal khususnya bagian sepertiga terakhir dan sisanya ia belajar dengan ayahnya Syaikh Abdurrahman sambil menghapal hadits nabawi yang empat puluh termasuk mempelajarinya sebagai ilmu- ilmu dasar. Pada tahun 1467 H, ia mengajukan permohonan belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Sythry -rahimahulloh- agar bisa ikut belajar ‘(menjadi muridnya), akan tapi sang Syaikh tidak mau menerima murid, jika murid tersebut belum hapal al-Quran 30 juz. Akhirnya Syaikh Jibrin berusaha berkonsentrasi menghafal al-Quran hingga ia menghafalnya dengan betul, dan hafalannya selesai tepat pada penghujung tahun. Setelah itu barulah ia belajar dengan Syaikh Sythry dengan jadwal setiap sehabis sholat Subuh, dilanjutkan lagi di waktu duha (pagi), kemudian satu jam setelah sholat Ashar dan setelah sholat Maghrib hingga masuk waktu sholat Isya. Bukubuku yang dipelajarinya pun bervariasi; mulai dari buku-buku ringkas seperti: Zaadul Mustaqniq, `Umdatul Kalam, al- Arba’in an-Nabawiyah, Kitabut Tauhid, Tsalatsatu Ushul, Syuruth as-Shalah, Adabul Masyi ila as-Shalah, AI Ilqidah al- Wasithiyah dan al-Hamawiyah. Untuk pelajaran Nahwu dan Shorof, ia mempelajari buku Matan AI Ujrumiyah. Dalam hal pelajaran Faraid, ia mempelajari buku arRahabiyah. Begitu juga ia belajar pakai buku-buku syarah besar, seperti buku: Subulus Salam, Syarh a!-Arba’in an-Nabawiyah karangan Ibnu Rajab, buku Tarikh karangan Ibnu Katsir berikut dengan kitab Tafsirnya, Tarsir Ibnu Jarir at-Thabari, Syarh Masa’il al-Jahiliyah karangan Mahmud al-Alusi al-Iraqi, buku tafsir anNaisaburi yang berjudul Gharaib al-Quran, dan masih banyak lagi buku-buku syarah dan karangankarangan ulama baik itu yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak. Selama masa belajar, ia tidak hentihentinya mengulang hafalan al-Quran. Setelah ayahnya wafat, ia sholat Jum’at dan berjamaah di Mesjid Raya. Belajar ke luar daerah Ia menamatkan studi di Ma’had Imam Dakwah, Riyadh tahun 1381 H. Setelah itu ia diterima menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sama. fa bekerja sebagai tenaga pengajar hingga berikutnya ia diminta pindah ke Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Islamiyah menjadi dosen di Fakultas Syariah dan Ushuluddin tahun 1395 H, yaitu sebelum dua kuliah tersebut dipisah menjadi dua. Ia masuk sebagai staf akademik fakultas tersebut dan selama ia aktif di sana telah banyak membimbing disertasi Magister. Pada tahun 1402 H, beliau ditetapkan sebagai anggota komisi fatwa di Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa, dekat dengan gurunya Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahulloh-. Pengabdiannya di dewan tersebut merupakan akhir karirya dan setelah itu ia memasuki masa pensiun di bulan Rajab 1418 H. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaganya. Syaikh Jibrin meraih gelar Magister dari Perguruan Tinggi Kehakiman tahun 1390 H. dengan judul disertasi “Akhbar al- Aahad fi al-Hadits an-Nabawi” dengan yudisium cumlaud. Gelar doktomya diraih dari perguruan tinggi yang sama pada tahun 1407 H. mentahqiq (investigasi) terhadap buku “Syarah az-Zarkasy ‘ala Mukhtashar al-Khuraqi” dengan yudisium cumlaud level pertama. Dalam disertasi itu ia bertugas mentaqhiq dan mentakhrij (footnote) hadits sebanyak 7 jilid buku dan buku-buku itu sekarang dicetak dan beredar di toko-toko buku. Kegiatan harian Jadwal kegiatan harian Syaikh dimulai dari setelah shalat Subuh memberikan ceramah di salah satu masjid sampai matahari terbit, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat. Setelah istirahat, berangkat ke kantor Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa. Di kantor, ia menjawab pelbagai pertanyaan tentang masalah keagamaan. Meskipun penanya-penanya itu ramai setiap hari, ia tidak pemah jenuh. Ia siap membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, dan meringankan beban siapapun yang memerlukan. Ia bersedia mengangkat dering telepon penanya. Pesawat teleponnya tidak pernah berhenti berdering. Demikianlah kesibukannya sehari-hari. Kerap kali ia orang yang paling terakhir pulang dari kantor Fatwa, bahkan ia sendiri yang mematikan lampu-lampu. Setelah shalat Ashar rumahnya terbuka untuk umum, juga ia menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang masalah agama. Kalau perlu, ia memberikan orientasi, atau memberikan rekomendasi bagi siapa saja yang membutuhkan, sampai masuk waktu Maghrib. Kemudian, ia berangkat ke salah satu masjid di kota Riyad untuk mengisi jadwal pengajian mingguan, mengingat jumlah jadwal pengajiannya dalam seminggu sampai sebelas kali. Setelah sha!at Isya berangkat lagi ke masjid lain, kadang mengisi pengajian, atau seminar dan lainlain. Media Muslim INFO .:Situs Umat Islam Terdepan Terpercaya:. http://mediamuslim.org/m Powered by MMINFO GROUPS! Generated: 13 April, 2008, 17:35 Demikianlah jadwal harian Syaikh yang sarat dengan muatan dakwah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sepanjang pekan. Semoga martabatnya ditinggikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala di sisi-Nya. Keistimewaan Syaikh Syaikh dikenal sebagai orang yang tawadhu (rendah hati). la sedikit bicara dan tidak akan bicara, kalau tidak karena menjawab pertanyaan. Kalau ulama lain berseberangan pendapat dengannya mengenai suatu hukum atau fatwa syariah, dengan tawadhu ia mengatakan, “mereka adalah ulama dan kita mesti menghormatinya.” Dalam hal menanggapi pendapat ulama lain, ia tidak mau mendebat dengan cara yang kasar dan radikal. Apabila Syaikh Jibrin diundang mengisi pengajian atau ceramah agama di daerah manapun, ia tidak pernah menolak, selama dirinya tidak terikat dengan jadwal atau janji pada pihak lain. Syaikh Jibrin senantiasa berbaik sangka dan tidak pernah merasa iri terhadap siapapun dari kaum ahli sunnah wal jamaah, -sepengetahuan saya dan hanya Allahlah yang lebih tahu- ia selalu tawadhu dalam segala hal. Orang-orang yang mengenalnya pasti menyukainya karena kelapangan hatinya. Tidak mau menolak pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang yang minta bantuan. la penuhi permintaan mereka sendirian. Segenap waktunya adalah pengabdian kepada Allah dan agama. Hidupnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah atau dengan sabda-sabda Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam. Martabat dan ketinggian yang ada padanya, dikarenakan ketawadhuannya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Imam Ahmad, “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’, Allah pasti akan mengangkat martabatnya. ” Apalagi bagi seorang yang diberi ilmu pengetahuan, wara’ dan tawadhu’. Semoga Allah mengampuni kita semua, kita dapat meraih surga dan terhindar dari siksa neraka. ,Washallahu wa sallam `ala Muhammad wa alihi wa shahbihi. Buku-buku karangan: - Syarh az-Zarkasyi ‘Ala Mukhtashar al-Khurafi; Dirasah wa Tahqiq. - Akhbar al-Ahad fi Hadits an-Nabawi.3. At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1′tiqad. - At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1′tiqad. - Fadhlllmi wa Wujub at-Ta’allum. - AhammiyahAl `flmi wa MakanatuAl `Ulama’. - Majmu’ Fatawa wa Rasa’il as-Syaikh Abdullah al-Jibrin. - AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Musafir (173 hukum). - AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Adzaan (123 hukum). - Al `llam bi Kufri Man Ibtagha Ghairu al-Islam. - As-Siraj al-Wahhaj Lil Mu’tamir wal Hajj. - As-Shiyam: Adab waAhkam. - Khawathir Ramadhaniyah. - Fatawa Adz-Dzakah. - AI-Islam baina al-GF.alw wa al-Jafa’ wa al-Ifrath wa Tafrith. - Fitan Hadza az-Zaman. - AI-Wala’ wa al-Barra’. - Haqiqatullltizam. - AI-Adab wa al-Akhlaq asy-Syar’iah. - Fatawa waAhkam fi Nabiyullah Isa ‘Alaihis Salam. - Syarh AI ‘Aqidah al-Wasatiyah. - Syarh Kitab at-Tauhid. - Fawaid min Syarh Kitab Manar as-Sabil. - Fawaid min Syarh Kitab at-Tauhid. - AI-Amanah. - AI-Hajj: Manafi’uhu waAtsaruhu. - As-Salaf Ash-Shalih baina al-Ilmu wa al-Iman. - AI-Bida’ wa al-Muhadditsat fi AI-Aqaid waAl-A’mal. - Muharramat Mutamakkinah fi Al Ummah. - AI-Jawab al-Faiq fi ar-Radd Ala Mubdil al-Haqaiq. - Asy-Syahadatan Ma’nahuma wa Ma Tastalzimuhu Kullu minhuma. - Syarh Kitab Minhaju as-Salikin. - AI-Irsyad Syarh Lam’atu AI `Itiqad. Adapun tulisan-tulisan yang pernah diperiksa dan diberinya kata pengantar cukup banyak dan tidak terkira jumlahnya.Wallahu A’lam Bishshawwa

Kesaksian Ulama Dunia Thd al Banna & Sayyid Qutb « pada: 18 September 2006, 09:29:36 pm » http://myquran.org/forum/index.php/topic,7677.0.html

(Farid Nu’man, SS. Dari majalah Tsaqif Edisi 17 dan 18 aug-sep 06)

Mereka sering mengatakan ‘Para ulama telah memperingatkan manusia agar hati-hati atas kesesatan tokoh tokoh Ikhwan.’ Pertanyaannya, ulama mana yang dimaksud? Kita dapatkan justru Syaikh bin Bazz (mantan Mufti Kerajaan Saudi Arabia dan ketua Hai’ah Kibaril Ulama), Syaikh al Albany, Syaikh Abdullah bin al Jibrin, Syaikh Shalih al Luhaidan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh (saat ini menjadi ketua Hai’ah Kibaril Ulama menggantikan Syaikh bin Bazz), Syaikh Abdullah bin Hasan al Qu’ud, mereka memberikan kesaksian positif terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, sebagaimana yang akan kami beberkan. Mereka -kecuali Syaikh al Albany- adalah Para ulama besar yang berada dalam jajaran Hai’ah Kibaril Ulama (Organisasi Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, yang telah menjadi rujukan mapan kaum salafiyyin.

Biasanya jika di luar kelompok mereka (salafy) mengutip pendapat ulama- ulama salafy masa kini, mereka akan mengatakan, “Ahli bid’ah biasanya mengutip perkataan ulama Ahlus Sunnah yang cocok dengan hawa nafsunya saja.” Ini adalah ucapan sinis dan fanatis buta. Siapakah yang melarang-larang manusia mengutip perkataan ulama yang objektif dan jujur? Sayangnya mereka juga melakukan hal yang sama; yakni hanya mengambil ucapan ulama yang sejalan dengan pemikiran mereka saja. Jangan harap anda menemukan mereka mengutip ucapan ulama lain, seperti Al Maududi, Al Banna, Al Qaradhawy, keluarga Quthb, Salman al Audah, Aidh al Qarny, kecuali untuk dicari dan dikoleksi kesalahannya. Allahul musta’an!

Perlu ditegaskan, kata ‘mereka’ yang kami maksud bukanlah para ulama salafy rabbany yang amat kita cintai dan muliakan, ‘mereka’ di sini adalah orang yang mengklaim dirinya paling Ahli Sunnah, paling salaf, paling benar, paling cerdas dalam istid/al (pengambilan dalil), dan paling .. paling …. Menurut pengakuannya, mereka adalah penuntut ilmu, bukan ulama. Mereka’ pun tidak mewakili semua, sebab masih banyak di antara mereka yang moderat, rendah hati, dan mau berdialog. Seharusnya penuntut ilmu harus menjadi Thalibul Ilmi al Mu’addib (penuntut ilmu yang beradab).

Kembali kepada permaslahan, siapakah ulama yang mereka maksud?

Apakah mereka para mufti ternama yang diakui dunia? Apakah Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhaly hafizhahullah yang dimaksud? Darinya telah banyak karya untuk meyerang Ikhwan, khususnya Sayyid Quthb. Tentang Syaikh ini, berkatalah Syaikh Abu Bashir at Thurthusy, “Adapun Rabi’ bin Nadi al Madkhaly, saya tidak melihatnya dalam barisan para ulama dikarenakan lisannya yang sering kasar terhadap saudaranya …” ( Abduh Zulfidar Akaha, Siapa Teoris? Siapa Khawarij? , hal. 323. Catatan kaki no. 625, bantahan terhadap buku Mereka Adalah Teroris! ) Syaikh al Qaradhawy sendiri menyebut Syaikh Rabi’ sebagai Salafy Jamiyun (beringas)..

Ataukah Syaikh Abdul Malik Ramadhan al Jazairi, yang dalam bukunya Madarikun Nazhar banyak menyerang Ikhwan, FIS, Muhammad Quthb, Salman al Audah, Safar al Hawaly, Aidh al Qrny, Abdurrahman Abdul Khaliq, dan lain-lain? Syaikh Abu Bashir at Thurthusy dalam salah satu fatwanya menyebutkan bahwa Syaikh Abdul Malik Ramadhan al Jazairy adalah orang yang tidak pernah terdengar namanya dalam jajaran ulama. (Ibid. hal. 62. catatan kaki. no. 99)

Komentar para ulama yang sezaman dengan tokoh-tokoh Ikhwan tersebut tentu lebih layak diikuti dan dipercaya, dibanding komentar orang yang datang setelah zamannya dan tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Komentar penulis buku Mereka Adalah Teroris! Yaitu Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah tentang sesatnya tokoh-tokoh Ikhwan dengan menyebut mereka takfiri, khawarij, teroris, anjing¬anjing neraka, ruwaibidhah (orang-orang dungu), mu’tazilah, bocah-bocah ingusan, pemikir linglung, dan lain-lain, adalah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ciri khas buku tersebut adalah mencaci maki dahulu membahas kemudian. Buku tersebut disusun untuk membantah buku Imam Samudera, Aku Melawan Teroris. Namun sayangnya, Imam Samudera hanyalah batu loncatan, sebagian besar muatan buku tersebut berisi serangan terhadap semua gerakan Islam yang tidak sejalan dengan Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh dan kelompoknya, lebih khusus serangan untuk Ikhwan dan tokoh-tokohnya. Padahal mereka amat moderat, dan jelas-jelas tidak sejalan dengan Imam Samudera yang radikal. Ajaib memang, di satu sisi Ikhwan dituduh terlalu moderat, di sisi lain dituduh sebagai biang terorisme dunia. Apakag ada orang moderat yang radikal?

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini bukan barang baru, dan sudah kami bantah dalam buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi edisi lengkap, (2004, Pustaka Nauka- Depok) jauh sebelum terbitnya buku Mereka Adalah Teroris! Ustadz Luqman bin Muhammab Ba’abduh adalah seorang keturunan Arab (Yaman) yang lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada 13 Mei 1971 M (Ibid, hal. 31) Beliau tujuh tahun lebih tua dibanding kami. Dari sini bisa diketahui, ia dilahirkan jauh setelah syahidnya Sayyid Quthb (w.1966 M), dan syahidnya Hasan al Banna (w.1949 M), dan usianya baru 18 tahun ketika syahidnya Abdullah ‘Azzam (w.1989 M), dan masih 16 tahun ketika Syaikh Ahmad Yasin mendirikan HAMAS (berdiri 1987 M), baru dua tahun ketika Yusuf al Qaradhawy meraih gelar doktornya tahun 1973 M dengan disertasi Fikih Zakatnya, artinya Ustadz ini terlalu muda dan berani, bahkan sangat-sangat berani, untuk ‘menghabisi’ para tokoh-tokoh tersebut. Memang, hanya orang besar yang bisa menghormati orang besar. Adapun orang berlagak besar, biasanya melihat orang lain dengan kerendahan.

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam besabda:

“Bukan dari umatku orang yang tidak menghormati orang besar kami dan tidak menyayangi orang kecil kami dan tidak mengetahui (hak) orang alim kami.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan, Thabarani dan Hakim, tatapi dalam riwayatnya tertulis: “bukan dari kami”. Syaikh al Albany menshahihkannya dalam Shahih Targhib wa Tarhib, 1/116)

Ada sebuah syair: Wahai orang yang ingin menanduk gunung tinggi untuk menundukannya Sayangilah kepala(mu), dan bukan gunung itu

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata: Ingin terbang, tidak memiliki bulu burung, Ingin memanduk kambing hutan, tidak memiliki tanduk.

Kali ini, kami akan paparkan kesaksian para ulama sunnah masa kini tentang tokoh-tokoh Ikhwan tertuduh tersebut. Anda akan menemukan perbedaan mencolok ulama sunnah tersebut dengan kalangan yang justru mengaku mengikuti mereka. Kesaksian ini kami ambil dari buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi edisi lengkap dan juga buku yang sangat bagus, karya Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc -hafizhahullah- yang berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Penerbit Pustaka Al Kautsar, cetakan pertama, Juni 2006. Sebuah buku yang berhasil membuka banyak sekali kesalahan, kedustaan terhadap ulama, dan penyimpangan pemikiran (yang justru mudah mengkafirkan orang lain), dari Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh -hafizhahullah- yang tertera dalam buku Mereka Adalah Teroris! Maaf, istilah `kedustaan’ bukanlah dari kami tetapi dari Ustadz Abduh Zulfidar sendiri terhadap Ustadz Luqman, sebagaimana tertera dalam Catatan Ketujuh (hal. 137 - 159). Kami sangat menganjurkan (tanpa berniat promosi) bagi pembaca setia Tatsqif untuk segera membaca dan menelaah baik buku tersebut. Selain dari dua buku tersebut kami juga memaparkannya dari sumber¬sumber lain.

Kesaksian Ulama Terhadap Imam Hasan al Banna -rahimahullah

1.Syaikh al Fadhil al ‘Allamah Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin -hafizhahullah

Ia adalah anggota Hai’ah Kibaril Ulama Arab Saudi yang tak diragukan kesalafiannya. Ada orang yang bertanya kepada Syaikh, “Saya memohon kepada Anda, wahai Syaikh, maaf, sesungguhnya ada sebagian pemuda yang membid’a bid’ahkan Sayyid Quthb dan mereka melarang membaca buku-buku karya beliau. Dan, mereka juga mengatakan hal yg sama tentang Hasan al Banna. Mereka pun mengatakan sebagian ulama sebagai khawarij. Hujjah mereka adalah penjelas kesalahan-kesalahan ulama tersebut kepada manusia. Padahal mereka sekarang masih menuntut ilmu. Saya memohon jawab dari Anda demi menghilangkan keraguan ini pada kami, sehingga hal ini tidak menimpa banyak orang.” Syaikh berkata -setelah menyebut beberapa dalil-, “Saya kataka sesungguhnya Sayyid Quthb dan Hasar Banna adalah termasuk ulama kaum muslimin dan tokoh da’wah Islam. Melalui da’wah mereka berdua, Allah telah memberi hidayah dan manfaat kepada ribuan manusia. Partisipasi da’wah mereka berdua tidak mungkin diingkari. Itu sebabnya Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengajukan permohonan dengan nada lemah lembut kepada Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdul Naser -semoga Allah membalas kejahatannya dengan balasan yang setimpal- agar menarik keputusan hukun gantung bagi Sayyid Quthb meski akhirnya permohonan itu ditolak.

Setelah mereka berdua (Hasar Banna dan Sayyid Quthb) dibunuh keduanya selalu disandangkan dengan gelar Asy Syahid karena mereka dibunuh dalam keadaan terzalimi dan terania. Penyandangan gelar tersebut diakui seluruh lapisan masyarakat dan tersebar luas lewat media massa dan buku-buku tanpa protes dan penolakan. Buku mereka berdua diterima para ulama dan Allah Subhana. wa Ta’ala memberikan manfaat melalui da’wah mereka kepada hamba-hambaNya serta tidak ada seorang pun yang melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih dari 20 tahun. Jika mereka berdua melakukan kesalahan, Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Ibnul Jauzy, Imam Ibnu ‘Athiyah, Imam al Khathaby, Imam al Qasthalany, dan Imam lainnya pernah melakukan kesalahan.” Sampai di sini dari Syaikh bin al Jibrin. (Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi, hal. 218-219, edisi lengkap. Lihat pula, Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Hal. 317- 319)

2. Kesaksian Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan -rahimahullah (w. 1999 M/ 1420H).

Ulama terkenal, pakar Tafsir dan Hadits. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh dan dosen paska sarjana di Universitas Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Ia berkata, “Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Asy Syahid Hasan al Banna dipandang sebagai gerakan keislaman terbesar masa kini tanpa diragukan. Tidak seorang pun dari lawan- lawannya dapat mengingkari jasa gerakan ini dalam membangkitkan kesadaran di seluruh dunia Islam. Maka dengan gerakan ini ditumpahkan segala potensi pemuda Islam untuk berkhidmat kepada Islam, menjunjung syariatnya, meninggikan kalimahnya, membangun kejayaannya, dan mengembalikan kekuasaannya. Apa pun yang dikatakan mengenai peristiwa¬peristiwa yang terjadi atas jamaah ini namun pengaruh intelektualitasnya tidak dapat diingkari oleh siapa pun juga.” (Istilah Asy Syahid asli dari Syaikh Manna’ sendiri. Lihat Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, hal. 506. Litera AntarNusa. Lihat juga Siapa Teroris? Siapa Khwarij?, hal. 316-317)

3. Kesaksian Mufti Besar Palestina Syaikh Hajj Muhammad Amin al Husaini -rahimahullah.

Ia berkata, “Sesungguhnya, sifat yang sangat menonjol pada diri AI Banna adalah Ikhlas yang mendalam, otak yang cemerlang, dan kemauan yang keras. Semua itu diperindah dengan kemauan yang kuat.” (Badr Abdurrazzaq al Mash, Manhaj Da’wah Hasan al Banna, hal. 89). Ia juga berkata, “Asy Syahid Hasan al Banna dan para pengikutnya telah memberi sumbangan besar bagi Palestina. Mereka mempertahankannya dengan berjuang keras dan cita-cita mulia. Semuanya merupakan karya nyata dan kebanggaan yang ditulis dalam sejarah jihad dengan huruf yang terbuat dari cahaya.” (Istilah Asy Syahid adalah asli dari Syaikh Amin al Husaini. Ibid, hal. 141-142)

4. Kesaksian mantan Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Makhluf rahimahullah.

Ia berkata, “Syaikh Hasan al Banna semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkannya bersama para shalihin- adalah salah seorang tokoh Islam abad ini. Bahkan ia merupakan pelopor jihad di jalan Allah dengan jihad yang sesungguhnya. Beliau berdakwah dengan menempuh manhaj yang benar, meniti jalan yang terang yang diterjemahkannya dari Al Qur’an, Sunnah Nabi, dan ruh tasyri’ Islam. Beliau melaksanakan semua itu dengan penuh hikmah, hati-hati, dan sabar, dan ‘azzam yang kuat sehingga da’wah islam menyebar ke seluruh penjuru Mesir dan negeri-negeri Islam serta banyak orang bergabung di bawah bendera da’wahnya.” (Ibid, hal. 91)

5. Kesaksian Da’i terkenal, alim rabbani, al ‘Allamah Abul Hasan Ali al Hasani an Nadwi -rahimahullah.

Ia berkata dalam pengantar buku Mudzakkirat Da’wah wa Da’iyah-nya Hasan al Banna , “Pengarang buku ini termasuk di antara pribadi-pribadi yang kami katakan memang sengaja dipersiapkan qudrah ilahiyah (kekuasaan Allah), dibentuk tarbiyah rabbaniyah, kemudian dimunculkan pada waktu dan tempat yang ditentukan.

Setiap orang yang membaca buku ini dengan dada bersih, sikap obyektif, jauh dari sikap fanatik, dan keras kepala pasti yakin bahwa pengarangnya adalah seorang yang memang dipersiapkan untuk dihibahkan (bagi umat manusia) yang bukan hanya tiba dan muncul begitu saja. Ia bukan sekadar produk sebuah lingkungan atau sekolah; bukan sekadar produk sebuah upaya keras, dan bukan produk dari sebuah percobaan. Ia merupakan salah satu produk dari taufik dan hikmah ilahiyah yang menaruh perhatian besar terhadap agama dan umat ini.” (Hasan al Banna, Memoar Hasan al Banna untuk Da’wah dan Para Da’inya, kata pengantar)

Sebenarnya masih banyak pujian ulama dunia untuknya. Hal itu, merupakan kebiasaan para ulama sejak dahulu; seorang ulama memberikan pujian (sekaligus kritik) terhadap ulama lainnya. Selain nama-nama di atas masih banyak tokoh yang memberikan kesaksian positif seperti Sayyid Quthb, Muhammad al Ghazaly, Muhammad al Hamid, Abu Zahrah, Musthafa al Maraghi. Mahmud Syaltut, Muhibuddin al Khathib, Yusuf al Qaradhawy, Said Ramadhan al Buthy, Said Hawwa, Abdus Salam Yasin, Bahi al Khuli, KH. Agus Salim, Muhammad Natsir, dan lain-lain. Hanya satu yang kami minta dari Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah; tolong sodorkan satu nama saja dari jajaran ulama yang diakui dunia-(ingat! bukan diakui oleh kelompoknya saja)- pada masa Hasan al Banna masih hidup, baik yang berinteraksi dengannya atau tidak, yang memberikan tuduhan dan caracter asasination (pembunuhan karakter) terhadap dirinya; dengan menyebutnya sesat, khawarij, dan sejumlah istilah mengerikan yang biasa Anda gunakan itu. “Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: ‘Tunjukanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS. Al Baqarah: 111) Sayyid Quthb

Sayyid Quthb -rahimahullah- dianggap tokoh kedua Ikhwan ‘ setelah Imam Al Banna, bahkan disebut sebagai ideolognya. Padahal beliau tidak pernah bertemu dengan Imam Al Banna secara langsung, hanya berinteraksi melalui risalah- risalahnya. Bahkan ia bergabung dengan Ikhwan termasuk ‘belakangan’ yaitu tahun 50-an, berarti beberapa tahun setelah wafatnya Imam Al Banna. Namun demikian, pengaruhnya begitu besar bagi Ikhwan, bahkan bagi kebanyakan aktivis pergerakan Islam dunia.

Di sini akan dipaparkan kesaksian positif para ulama dunia kepadanya, di tengah fitnah terorisme yang diarahkan ke Islam oleh barat, namun justru diaminkan oleh segelintir da’i Islam yang juga ikut menuduh aktifis Islam dan ulamanya ,sebagai teroris, termasuk Sayyid Quthb -rahmatullah ‘alaih. Bahkan begitu tega mereka katakan bahwa Sayyid Quthb merupakan investor dan kontributor terbesar secara fikrah, atas berbagai aksi kekerasan atas nama Islam pada hari ini.

Berikut ini paparan para Ulama yang memberikan kesaksian positif tersebut, dan pembaca akan dapatkan betapa jauh berbeda antara para ulama ini dengan pandangan sinis dan skeptis dari kalangan bukan ulama. Sehingga layak kita bertanya, ulama mana yang diikutinya?

1.Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin -rahimahullah.

Anggota Hai’ah Kibar al Ulama di Saudi Arabia. Silahkan lihat kesaksian dan pembelaan beliau terhadap Sayyid Quthb dan Hasan al Banna dalam rubrik Tsaqafah edisi 17, atau lihat kitab Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubhat wa,Rudud karya Al Ustadz Dr. Taufiq al Wa’iy,hal. 515-516. Cet.1, 2001M/1421H. Maktabah Al Manar Al Islamiyah, Kuwait.

2.Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah.

Juga anggota Hai’ah Kibar al Ulama. Ia telah membela Sayyid Quthb -rahimahullah- dari serangan Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhaly. Ia mengirim surat kepada Syaikh Rabi’ sebagai nasehat untuknya. Silakan lihat surat tersebut - sangat panjang- yang sebagiannya telah kami terjemahkan dari kitab berjudul Sayyid Quthb karya Shalah Abdul Fattah al Khalidi, hal. 593-600, penerbit Darul Qalam, Damaskus, yang kami lampirkan dalam buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, hal. 411-418 (edisi lengkap). Lihat juga Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubaht wa Rudud, hal. 508- 514.

3.Syaikh Abdullah bin Al Hasan al Qu’ud -rahimahullah.

Seorang ulama Saudi Arabia yang juga menjadi rujukan kaum Salafiyyin. Syaikh Ibnu Qu’ud telah menasehati Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali.

Ia berkata, “Telah membawa berita kepadaku lebih dari seorang, tentang perkataanmu di suatu pertemuan baik-baik -semoga demikian adanya- bahwa engkau mengatakan buku Ma’alim fi Ath Thariq adalah buku terlaknat. Subhanallah!! Sebuah buku yang dibayar mahal oleh penulisnya (yakni Sayyiq Quthb) dengan mati di jalan Allah karena menentang penguasa komunis Jamal Abdul Nashir, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal buku tersebut telah diedarkan oleh banyak pihak di Kerajaan Saudi ini selama bertahun¬tahun, di mana mereka adalah orang-orang berilmu dan berdakwah kepada Allah. Bahkan, banyak di antara mereka adalah para syaikh dari syaikh-syaikhmu. Dan, tidak ada seorang pun di antara mereka mengatakan seperti yang engkau katakan.

Akan tetapi, engkau ini -wallahu a’lam- tidak mau memahami lebih mendalam apa yang engkau bicarakan sebelum marah, terutama untuk tema-tema semacam: Jail Qur’ani Farid (Satu-satunya Generasi Da’wah), Jihad, Laa Ilaaha Illallah manhaj kehidupan, Jinsiyyatu Al Muslim Aqidatuhu (Warga negara/Identitas seorang Muslim adalah Aqidahnya), Isti’la Al Iman (Kesombongan/ Ketinggian Iman), Hadza Huwa Ath Tharid (Inilah Dia Jalan -yang benar), …. Dan lain-lain dimana maknanya secara keseluruhan adalah keberagamaanmu kepada Allah? Bagaimana engkau nanti jika berdiri di hadapan Allah ketika orang ini (Sayyid Quthb) mendebatmu? Padahal, orang ini telah bertahun-tahun lamanya secara berturut¬turut disifati oleh media massa Saudi sebagai syahidul Islam?” (Abduh Zlfidar Akaha, Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, hal. 325-326)

4.Syaikh al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafizhahullah.

Mufti Kerajaan Saudi Arabia saat ini, pemgganti Syaikh bin Baz. Syaikh ini mengkritik balik orang-orang yang mengkritik Sayyid Quthb.

Beliau berkata, “Kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah kitab yang bermanfaat. Penulisnya menuliskannya agar Al Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya … Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istikah yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Quthb dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembaca. Inilah sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb.” (Ibid, hal. 326)

Ucapan Syaikh ini mengingatkan kami kepada Andi Abu Thalib al Atsary (nama aslinya Andi Bangkit), penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwahul Muslimin, Penerbit Darul Qalam, pada hal. 73 catatan kaki no. 56 yang begitu tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengetahui seluk beluk bahasa Arab.

Kami tidak tahu, kira-kira apa yang akan dikatakan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh kepada Andi Abu Thalib, kalau dia tahu ada omongan pemuda Indonesia -tentu tidak menjadikan bahasa Arab sebagai pengantar komunikasinya- yang tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengerti bahasa Arab. Padahal kritikan Syaikh di atas diarahkan untuk para pengkritik Sayyid Quthb dari kalangan orang Arab (tentu berbahasa Arab) bahkan syaikh-syaikhnya. Sungguh, amat berbeda antara ucapan orang berilmu seperti syaikh yang mulia ini, dibanding ucapan penuntut ilmu itu. Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid ketika membela Sayyid Quthb dari celaan. Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa perbedaan bahasa yang digunakan Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ seperti perbedaan bahasa antara mahasiswa dan anak I’dadi (persiapan bahasa), sehingga si anak I’dadi tidak begitu paham dengan bahasa si mahasiswa.(Ibid, hal. 322)

Itu perbandingan dari Syaikh Bakr Abu Zaid tentang kemampuan berbahasa Arab antara Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ (yang seorang guru besar, Profesor di Universitas Islam Madinah), lalu bagaimana perbandingan antara Sayyid Quthb dengan Andi Abu Thalib yang orang Indonesia, mantan santri di pesantren Jawa Timur dan kuliah di Sastra Jepang UI angkatan 1999M. Jangan sampai pembaca Tatsqif mengumpamakannya seperti perbedaan Mahasiswa dengan balita!

Maka, wahai pembaca, bukankah selayaknya ini disebut kesombongan penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin, agar ia bisa berbangga- bangga dengan ilmunya di depan ulama.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihi Shalatu was Salam bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakannya kepada para ulama dan melecehkan orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih-milih majlis dengan ilmu itu, barangsiapa melakukan hal tersebut maka api neraka, api neraka (baginya).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al Baihaqi. Semuanya dari jalur Yahya bin Ayyub al Ghafiqi dari Ibnu Juraij, dari Abuz Zubair, dari jabir. Yahya initerpercaya. Asy Syaikhan dan lainnya berhujjah dengannya, dan tidak dianggap orang yang ganjil (syadz) dalam riwayat ini. Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Hudzaifah. Syaikh al Albany menshahihkan hadits ini dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/119)

5.Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan -rahimahullah.

Pakar Tafsir dan Hadits, dosen pasca sarjana di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah, Riyadh. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh. Dia juga seorang anggota Ikhwan, seangkatan dengan Yusuf al Qaradhawy. Posisinya di Saudi yang demikian tinggi menunjukkan penerimaan ulama Saudi terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, begitu pula Yusuf al Qaradhawy pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Universitas Islam Madinah yang direktori Syaikh bin Baz.

Kami ringkas ucapan Syaikh Manna’, dia berkata, “Di antara tokoh jamaah ini yang paling menoniol adalahseorang alim yang sulit dicari bandingannya dan pemikir cemerlang, Asy Syahid Sayyid Quthb, yang telah memfilsafatkan pemikiran Islam dan menyingkapkan ajaran¬ajarannya yang benar dengan jelas dan gamblang. Tokoh yang menemui Tuhannya, sebagai syahid dalam membela akidah ini telah meninggalkan warisan pemikiran sangat bermutu, terutama kitabnya dalam bidang tafsir yang diberi nama Fi Zhilalil Qur’an.

Kitab tersebut merupakan sebuah tafsir sempurna tentang kehidupan di bawah sinar Qur’an dan petunjuk Islam. Pengarangnya hidup di bawah naungan Qur’an yang bijaksana sebagaimana dapat dipahami dari penamaan kitabnya. Ia meresapi keindahan Qur’an dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan jujur ….dst.

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar dan telah mengalami cetak ulang beberapa kali hanya dalam beberapa tahun saja, karena mendapat sambutan hangat dari kaum terpelajar (ilmuwan).” (Ibid, hal. 326-327. Manna Khalil al Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, hal. 506-507)

6. Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar. Seorang ulama Quwait, dosen Fakultas Syariah di Universitas Quwait

Dia berkata, “Sayyid Quthb -rahimahullah mendalami Islam secara orisinil sehingga beliau mencapai masalah secara mendasar seperti manhaj salaf, pemisahan total antara manhaj Al Qur’an dan filsafat, memurnikan sumber ajaran Islam dari lainnva. membatasi standar hukum hanya dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan bukan pada pribadi atau tokoh tertentu. Sayyid Quthb menerapkan cara istimbath langsung dari nash seperti yang dilakukan salaf. Akan tetapi, sayangnya beliau tidak memiliki kesempatan mempelajari manhaj Islam. oleh karena itu, terkadana ada beberapa titik rancu dalam tulisannya meskipun beliau sudah berupaya mengkaji secara serius untuk berlepas dari kerancuan. Pastinya, Sayyid Quthb tidak melakukan hal tersebut karena hawa nafsunya.” (Jasim al Muhalhil, Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, hal. 124)

Siapa saja bisa berbuat salah sebab yang ma’shum hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun demikian seharusnya, kita berbaik sangka terhadap kerancuan yang ada tulisan atau pemikiran ulama, siapapun dia. Kesalahan yang dilakukan oleh Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al Qaradhawy, Muhammad al Ghazaly, kita yakini bukanlah kesalahan yang mereka niatkan dengan sengaja bertujuan merusak agama sebagaimana yang sering dituduhkan sebagian orang kepada mereka. Mungkin kesalahan itu sekedar lupa, atau kesalahan yang masih bisa dimaafkan atau masih bisa didiskusikan. Pastinya, bukan karena kejahatan dan penistaan terhadap ajaran agama.

Sekiranya tulisan ini dibaca oleh kalangan yang hobi menyerang tokoh-tokoh Ikhwan, kami berharap semoga Allah Jalla wa ‘Ala membuka hati-hati mereka untuk melihat kebenaran dan objektifitas.

ETIKA PERGAULAN DAN BATAS PERGAULAN DI ANTARA LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM.

1.Menundukkan pandangan: ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan pandangannya, sebagaimana firman- NYA; Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an- Nuur: 30) Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an- Nuur: 31) 2.Menutup Aurat; ALLAH berfirman dan jangan lah mereka mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka melabuhkan kain tudung ke dadanya. (an-Nuur: 31) Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri- isteri orang mukmin: Hendaklah mereka melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-Nuur: 59). Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis. Dari Abu Daud Said al-Khudri r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan wanita jangan melihat aurat wanita. 3.Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita; Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53) 4.Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki Dan Perempuan; Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim) Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih) 5.Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan): Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman ALLAH SWT; Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik. (al-Ahzaab: 32) Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam pengertian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir 3/350) 6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis; Dari Maqil bin Yasar r.a. berkata; Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat Thabrani dalam Mujam Kabir) Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang- orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohihah 1/44 8) Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain- lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat. (Hadis Riwayat Bukhari)

Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebahagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan- angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim & Abu Daud) Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati kepada perbuatan zina. Sebagaimana Firman- NYA; Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Syair teuntuk para Mujahid yang berjuang dimedan Jihad Tema: ” FISABILILLAH ”

fisabilillah………..

Siapa yang datang menghunuskan cabar Maha suci Allah Fisabilillah Siapa menentang semangat terbakar seruan dikhabar Pedang Allah temu tombak dan hanjar Tiada luka jadi saksi Diam kata hati ke hati Satu tentang satu mata di mata Pedang di muka penuh rahsia

Telahpun terkalam dalam sejarah Maha suci Allah Fisabilillah Tunduknya panglima berani dan gagah di medan maruah Dengan kalimah Maha Suci Allah Hati terbuka bagai janji Sujud rela kasih abadi Berpadu tenaga menegakkan Islam bersatu kuasa

Sucilah jiwa Inayah dari-Nya Membawakan rahmat meneguh kota Yang berjihad mulia Akhirnya kekal syahid di syurga

Maha suci Allah Allah Allah Maha Besar Maha Besar Maha Suci Allah Allah Allah Maha Besar Maha Besar Benar kalimah dalam hidayah Fisabilillah kasih cinta nan indah Maha suci Allah Allah Allah Maha Besar Maha Besar

Ya Rahman Rahman Ya Rahim Rahim Ya Rahman Rahman Ya Rahim (2X)

Saudaramu yang penuh khilaf dan dosa Alfaqir illalloh azza wa jalla

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy bin Shalih Abu Ramadhan

Syair teruntuk para Isteri Mujahid Tema: ” Rijal telah Hilang !! Mujahid telah Kelam !!! ” Saudaramu yang penuh khilaf dan dosa Alfaqir illalloh azza wa jalla

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy bin Shalih Abu Ramadhan

Setiap hari bingkisan dari syurga tiba Mengulangi tentang rindunya pada kuntuman rijal Mengapa kuntum mekar tidak lagi menghiasi taman?

Di dunia kelopak demi kelopak layu berguguran Dimamah deretan anai-anai tribulasi zaman Setiap dekad belum lagi menjadi piala perjuangan

Sebaliknya menjadi takungan air mata Yang mengalir di pipi perlahan melihat satu demi satu Bolos pada jaring-jaring robek dimakan tikus

Lukah yang ditanam selama ini tidak lagi seperti semalam Jerat yang dipasang juga tidak bingkas Setiap kali pulang hanya diburu kesepian Di tengah hiruk pikuk mertua dan anak-anak

Dunia semakin tenat Tetapi sepatu rijal belum lagi kedengaran Pulang membawa pesanan yang dikirim Umat masih tertinggung di tangga Dengan dua tangan bertupang dagu Mengintai andainya kelihatan Langkah pulang seorang rijal

Taman syurga semakin riuh dengan bisikan malaikat Bisikan ingin tahu yang sungguh-sungguh Siapakah tetamu syurga esok hari Kerana hari ini dunia mengiklankan kehilangannya

Di sana-sini pada dinding dan tembok-tembok Terpampang pemidang jelas Bagi siapa yang melintasi dan menatapinya ‘RIJAL TELAH HILANG’

palestine

“ Haramnya Propaganda Sinkretisme Agama “

“ Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka) “. (QS. An-Nisa’ : 89). Menanggapi pertanyaan yang dilayangkan kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-‘Ifta, Saudi Arabia tentang beberapa pemikiran yang kian marak diekspos dimedia-media informasi seputar masalah seruan sinkretisme agama (penyatuan agama), antara Agama Islam, Yahudi, dan Nasharani, mempertimbangkan dampak propaganda tersebut, seperti masalah pembangunan masjid, gereja, dan tempat peribadatan yahudi dalam satu kawasan. Baik lingkungan sekolah, universitas, bandara penerbangan maupun di tempat-tempat umum. Beitu pula seruan untuk mencetak Al-Qur’an Al- Karim, Taurat, dan Injil dalam satu jilid. Dan masih banyak lagi dampak propaganda penyatuan agama tersebut. Demikan pula muktamar-muktamar, seminar dan yayasan-yayasan di barat dan di timur yang diselenggarakan dan didirikan untuk tujuan tersebut.

Setelah menela’ah dan mempelajari masalah ini, maka Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-‘Ifta, Saudi Arabia menetapkan sebagai berikut:

Pertama: Sesungguhnya termasuk pokok-pokok keyakinan di dalam Islam, yang telah diketahui secara pasti dan disepakati oleh kaum muslimin, bahwasanya tidak ditemukan di muka bumi ini satu agama pun yang benar selai dienul (agama) Islam. Islam adalah agama penutup sekaligus penghapus seluruh agama maupun syari’at sebelumnya. Jadi tidak ada lagi agama pun yang eksis di muka bumi ini yang boleh digunakan sebagai pedoman ibadah selain dienul Islam. (QS. Al-Imran: 85). Kedua: Termasuk pokok-pokok keyakinan di dalam Islam. Bahwa Kitab suci Al-Qur’an Al-Karim adalah Kitab Alloh terakhir yang diturunkan dan telah mendapat jaminan dari Raab semesta alam. Sebagai penghapus bagi semua kitab yang diturunkan sebelumnya seperti, Taurat, Jabur, Injil dan selainnya. Sebagai penyempurna terhadap kitab-kitab terdahulu. Maka tidak ada sebuah kitab pun yang diturunkan setelah diutusnya Nabi Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam selain Al-Qur’an Al-Karim, sebagaimana Alloh Ta’ala firmankan dalam QS. Al-Maidah :48. Ketiga: Wajib mengimani bahwasanya Taurat dan Injil telah dihapus dengan turunya Al-Qur’an Al-Karim. Keduanya telah mengalami tahrif (perubahan) dan tandil (diganti) dengan penambahan maupun pengurangan. Sebagaimana dijelaskan perihal tersebut pada beberapa ayat dalam Kitabulloh Al-Karim, diantaranya firman Alloh Ta’ala: lihatlah dan periksa QS. Al-Maidah: 13, QS. Al-Baqarah: 79, QS. Ali-Imron: 78.

Oleh karena itu, kebenaran apa saja yang terdapat pada agama-agama tersebut, maka telah dihapus dengan Islam. Adapun selain itu, telah mengalami penyimpangan dan perubahan.

Dewan Fatwa Ulama dan Riset Ilmiyyah Kerajaan Arab Saudi (KSA) Ketua: Samahatush Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz Rahimahulloh Wakil Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Allu’-Syaikh Hafidzhahulloh Anggota: Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan Hafidzhahulloh Syaikh DR. Bakr’ bin Abdillah Abu Zayd Hafidzhahulloh

Untuk lebih jelas lihat dalam buku “ Awas Kristenisasi & Bahaya seruan Sinkretisme Agama “ Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah (Divisi Penelitian Ilmiah dan Komisi Fatwa), KSA Terbitan: Darul Ilmi Cetakan: Pertama, Oktober 2005 Judul Asli Kitab: Tsalatsu Fatawa Muhimmah.

By: Al-Ustadz Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy

“ Info Buku-buku dan Majalah bermutu serta Kaset Nasyid Bermanhaj Ahlusunnah wal Jama’ah yang patut anda miliki ! “ Oleh: Al-Ustadz Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy, Spd, I

Penerbit HASMI Phone: (0251) 388006 & (0251) 389788 1.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “Ahlusunnah wal Jama’ah “. 2.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “ Shirothol Musthaqim “. 3.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “ Dienul Islam “. 4.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “ Penerapan Hukum Alloh”. 5.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “ Iman menurut Ahlusunnah wal Jama’ah “. 6.Buku Silsilah Tarbiyyah Sunniyyah “ Da’watuna “. Penerbit PT. Marwah Indo Media (MIM) Phone: (0251) 388006 & (0251) 389788 1.Buku Membongkar Kedok Salafiyun Sempalan, Penyusun: Tim Studi Kelompok Sunniyyah. Penerbit Pustaka Al-Faruq Phone: (0251) 388006 & (0251) 389788 1.Buku Pelajaran penting untuk seluruh umat, Karya: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. 2.Buku Dalam perut Ikan (Kumpulan kisah-kisah mengharukan), Karya: Syaikh DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Arifi. Penerbit Jazera Phone: (0271) 7074155 Hp: 081548592756 1.Buku Return From Guantanamo, Karya: Adil Kamel. 2.Buku Thaifah Al-Manshuroh, Karya: Syaikh DR. Salman Fadh Al-Audah. 3.Buku Generasi Ghuroba, Karya: Syaikh DR. Salman Fadh Al-Audah, Pengantar: Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahulloh (Mantan Mufti serta Qadhi di Kerajaan Saudi Arabia). 4.Buku DPO, Buronan dalam lintasan Sejarah Islam klasik, Karya: Syaikh Fariz Az-Zahrani. 5.Buku Saudi di mata seorang Al-Qaidah, Karya: Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi. 6.Buku Balada Jama’ah Jihad, Karya: Syaikh DR. Hani As-Siba’i. 7.Buku Mereka Mujahid tapi Salah Langkah!, Karya: Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi. 8.Buku Di Bawah Kilatan Pedang, Karya: Syaikh DR. Hamid Ath-Thahir 9.Buku Melawan Penguasa (menyorot Praktik Bernegara Modern dalam Perpektif Islam), Karya: Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah dan Syaikh Abdul Aziz Al-Maliki. 10.Buku Umar Mukhtar (Napak tilas Jihad sang Singa padang Pasir), Karya: Syaikh DR. Ali Ash-Shallabi. 11.Buku Jihad jalan khas kelompok yang dijanjikan, Karya: Syaikh DR. Salman Fadh Al-Audah. Penerbit Kafayeh Cipta Media Phone: 081393396635 1.Buku Wasiat para Syuhada’ WTC (Menembus kembali harga diri Islam dan kaum Muslimin). 2.Buku Agama Demokrasi, Karya: Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi. 3.Buku Cinta Syahadah, Karya: Syaikh Jabir bin Abdul Qayyum. 3.Buku Dan malaikatpun turun di Afghanistan, Karya: Syaikh DR. Abdullah Azzam. 4.Buku Book Of Mujahideen, Karya: Syamil Basayev. 5.Buku Melacak jejak Thoghut, Karya: Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz. 6.Buku Kisah-kisah menjemput Syahid, Karya: Syaikh Hammad Al-Qathari. 7.Buku Prinsip-prinsip Jihad, Karya: Syaikh DR. Abdullah Azzam. 8.Buku Ke Baghdad aku meninang Bidadari, Karya: Syaikh Abu Mush’ab Al-Zarqawi. 9.Buku dari Usamah untuk para Aktivis, Karya: Syaikh Usamah bin Ladin. Penerbit Muqowama Phone: 085293190615 1.Buku United State Of Loser (Fakta kekalahan Amerika di Perang Irak), Oleh: The Islamic State of Iraq. 2.Buku Peminang Bidadari. Buku Menyongsong Daulah Islamiyyah Irak, Oleh: The Islamic State of Iraq. 3.Buku The Islamic Military in Action, Oleh: The Islamic State of Iraq. Penerbit Pustaka Iltizam Phone: 081548542512 4.Buku Selagi nyawa menyatu di raga, Karya: Azhari Ahmad Mahmud & Tim Divisi Ilmiah Darul Wathon. 5.Buku Agar engkau shalat tak sia-sia, Karya: Syaikh Muhammad bin Qusri Al-Jifari. 6.Buku Engkaulah pendamping yang kucari, Karya: Syaikh Nada Abu Ahmad. 7.Buku Merangkai Cinta menangkal Badai Rumah Tangga, Karya: Salim Al-‘Ajami. 8.Buku Deadline Your Life, Karya: Solikhin Abu ‘Izzuddin. 9.Buku Bahagia saat sakit, Karya: Fahrur Mu’is. Buku selamat anda akan menjadi ibu, Karya: Sri Handayani Muhsin. Penerbit Wa Islama Phone: (0271) 631274 Hp: 08121528538 1.Buku Rahasia menundukkah Syahwat, Karya: Syaikh Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy. 2.Buku Dari alam kubur menuju Surga atau Neraka?, Karya: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Alaaf al-Ghomidi. 3.Buku Jejak Amal-amal Kemurtadan, Karya: Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah. 4.Buku Kehidupan segera berakhir, Karya: Syaikh Ali Ramadhan Abu Al-‘Izz. 5.Buku Perjalanan Hidup sesudah Mati, Karya: Al-Millbary. 6.Buku Rahasia Keajaiban Do’a, Karya: Syaikh Amir bin Muhammad al-Madariy (Imam Masjid Al-Iman, Yaman). Penerbit Islamika Phone: 081393474271 1.Buku Harakah Jihad Ibnu Taymiyyah, Karya: Syaikh Abdul Rahman Abdul Kholiq. 2.Buku Tatbiq Syari’ah, Karya: Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz. 3.Buku Kafir tanpa Sadar, Karya: Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz. 4.Buku Muslimah Berjihad (Peran Wanita di Medan Jihad), Karya: Syaikh Yusuf al-‘Uyairi. 5.Buku Beda Salaf dengan “ Salafi “ Harusnya sama kenapa Beda? (dilengkapi Fatwa-fatwa Kibar Ulama), Karya: Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Mut’ab bin Suryan Al-‘Ashimi Hafidzhahulloh Ta’ala. Penerbit Ar Rahmah Media Phone: (021) 68841087 Hp: 081371337174 1.Buku Tiada Khilafah tanpa Tauhid dan Jihad, Karya: Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah. Penerbit Darul Ilmi Phone: (0274) 896564 1.Buku Awas Kristenisasi & Bahaya seruan Sinkretisme Agama, Karya : Al-Lajnah Ad-Da’imahlil Buhuts al-Ilmiah Wal ifta’ (Divisi Penelitian Ilmiah dan Komisi Fatwa), Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Penerbit Irsyad Baitus Salam (IBS) Phone: (022) 5412189 1.Buku Intisari Ajaran Islam, Karya: Syaikh Thaha Muhammad. Penerbit Insan Media Phone: (0271) 5878904 1.Buku The Power Of Sholat Jama’ah, Karya: Abdullah Khoir. 2.Buku Nikmatnya Taubat, Karya: Abdullah Khoir 3.Buku Bahagia dengan Shalat, Karya: Abdullah Khoir. 4.Buku Rahasia Shalat Tasbih, Karya: M Yazid Nuruddin. 5.Buku 100 Hadist hadist Shahih Sunnah-sunnah harian, alih Bahasa: M Yazid Nuruddin. 6.Buku 85 Hadist Shahih Fadhailul ‘Amal (Keutamaan Amal), alih Bahasa: M Yazid Nuruddin. Tauhid Production Arabic Nasyid Phone: (0271) 71516220 Hp: 081393573705/08886711942 (Gantikan lagu CENGENG-mu dengan Nasyid Pengobar JIHAD) 1.Nasyid Mazziqihim “ Hancurkan Mereka “, Oleh: Jihad Alami. 2.Nasyid Bangkitlah!, Oleh: Jihad Alami. Majalah-majalah Islam terbitan PT. Marwah Indo Media (MIM), Bogor Phone: (0251) 388006 & (0251) 389788 1.Majalah Gerimis 2.Majalah Ummatie Majalah terbitan Forum Studi Islam (FSI) An-Najah, Surakarta Phone: (0271) 7095433 1.Majalah An-Najah

Tidak ada komentar: